Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2010

Oleh Mohammad Fajrul Falaakh

Menyimak matriks pendapat di Pansus Bank Century (Kompas, 18/2/2010, halaman 1), semestinya DPR akan menerbitkan mosi tak percaya terhadap kebijakan pemerintah menalangi Bank Century. Jika benar, mosi itu jadi instrumen pengawasan legislatif terhadap kebijakan eksekutif dalam sistem presidensial.

Penggunaan instrumen itu akan menormalkan keterpisahan eksekutif-legislatif dan fungsi pengawasan oleh DPR, yang terdistorsi oleh Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 dan koalisi parlementer.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Oleh WINARNO YUDHO

Tafsir adalah penjelasan atau keterangan, dengan demikian pembicaraan kita yang bertajuk “Tafsir Konstitusi Terhadap Sistem Peradilan di Indonesia” merupakan pembicarakan tentang penjelasan atau keterangan konstitusional mengenai Sistem Peradilan di Indonesia. Persoalannya adalah siapa yang berwenang memberi penjelasan dan dimana atau dalam bentuk apa penjelasan tersebut dapat ditemukan.

Karena tafsir merupakan hasil dari penafsiran, maka kedudukan atau status dari pihak yang melakukan penafsiran tentu akan berpengaruh terhadap hasilnya. Pihak yang melakukan penafsiran tentunya adalah mereka yang mempunyai otoritas, sehingga penjelasan yang diberikan dapat dijadikan pedoman atau pegangan sesuai dengan kebutuhan. Otoritas dari pihak yang memberikan penjelasan/tafsir dapat didasarkan pada kewenangan yang dimiliki berdasarkan ketentuan hukum maupun atas dasar kriteria lain.

Perbedaan kedudukan/status dari pihak yang memberi penjelasan, akan berpengaruh terhadap penjelasan yang diberikan. Pihak yang secara formal menurut hukum diberi wewenangan untuk melakukan penafsiran, penjelasan/tasir yang dihasilkan memiliki kekuatan hukum jika dibuat sesuai dengan syarat-syarat yang berlaku.

(more…)

Read Full Post »

Bangsa dan negara ini menghadapi aneka masalah besar, menggunung, dan berat. Pengadilan hanya menambah beban bangsa jika harapan masyarakat terus dikecewakan. Sebaliknya, pengadilan akan membantu mengurangi beban bangsa jika hakim tidak hanya berpikir menerapkan UU, tetapi secara progresif menjadi vigilante.” (Satjipto Rahardjo: 2007)

Keresahan Almarhum Satjipto Rahadjo juga dirasakan bersama. Bagaimana tidak, sejak 1998 tujuan reformasi hukum belum sepenuhnya tercapai. Perubahan belum menyentuh perilaku yang diharapkan. Hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) pada 2008 lalu atas judicial system di Asia, masih menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-12, jauh di bawah Singapura pada peringkat ke-2. Hal ini menunjukkan rendahnya kinerja lembaga hukum, dimana praktik mafia peradilan atau judicial corruption masih marak terjadi. Sorotan masyarakat akan rekam jejak buruk lembaga hukum kita tahun ini dengan reaksi keras publik atas proses hukum Bibit Waluyo-Chandra M. Hamzah sebagai upaya melemahkan lembaga yang memberas korupsi.

Benar saat ini proses hukum banyak menyentuh pejabat tinggi, produk UU setiap saat disahkan, dan berbagai institusi dan kebijakan dibentuk. Akan tetapi semuanya baru perubahan bentuk dan sitem ketatanegaran dan banyak sifatnya seremonial dan trend belaka. Reformasi belum menyentuh masalah mendasar perilaku korupsi di semua kalangan dan lapisan masyarakat. Korupsi semakin terbuka dan mewabah di segala penjuru, di daerah-daerah dan segala golongan, jabatan dan lapisan. Di perdengarkannya rekaman pembicaraan di MK membuktikan penegakakan hukum diwarnai penghianatan dan ketidakjujuran. Jika penegak hukum mau bertindak korup, maka sistem ideal apapun tidak akan ada artinya. Negara hukum hanya indah tercantum dalam konstitusi tanpa makna dan hanya menjadi klaim bernegara hukum.

(more…)

Read Full Post »

Oleh Wahyudi Akmaliah Muhammad

Belum usai persoalan kemelut bangsa yang melanda negeri ini, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang menimpa pejuang demokrasi, HAM, dan pluralisme, yaitu Abdurahman Wahid. Ia, setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah seperti biasa biasa, meninggal pada Rabu, sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM). Seluruh elemen masyarakat Indonesia pun berduka atas kepulangannya. Gusdur, demikian ia sering disapa, adalah guru bangsa yang telah mewarnai perjalanan Indonesia, Islam, dan keindonesiaan.

Betapa tidak, disaat orang banyak memaki dan menghujat terhadap korban peristiwa 1965-1966 karena ketidaktahuannya terhadap sejarah yang sudah didoktrin dan dimanipulasi oleh rejim Orde Baru, ia, ketika menjadi presiden, meminta maaf kepada mereka yang pernah dirampas haknya sebagai warga negara selama bertahun-tahun. Bahkan, ia, dengan berani, mengusulkan pencabutan Tap MPRS No XXV/1966 mengenai pembubaran Partai Komunis dan penyebaran ajaran marxisme, komunisme, dan leninisme.

(more…)

Read Full Post »

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Kamis, 14 Januari 2010 | 00:06 WIB

Oleh Jafar M. Sidik

Hari ini, empat belas hari lalu, Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid, wafat di usia ke-69, dan hanya beberapa jam setelah guru bangsa ini mangkat, masyarakat mengusulkannya menjadi pahlawan nasional.

Tetapi, catatan dan testimoni mengenai sumbangsih kyai besar ini pada bangsa, peradaban dan manusia, mengalir deras dan terlampau besar untuk dibingkai oleh sekedar predikat pahlawan nasional.

Bahkan, mantan Ketua MPR Amien Rais menganggap tokoh yang akrab disapa Gus Dur ini otomatis pahlawan nasional.

(more…)

Read Full Post »

Sabtu, 02 Januari 2010 | 10:09 wib ET

SURABAYA-Tidak banyak yang tahu, bahwa pada saat lahir, oleh orang tuanya, KH Wahid Hasyim dan Ny Sholehah, Gus Dur diberi nama dengan Abdurrahman “Addakhil’, yang artinya ‘Sang penakluk’. Sebuah harapan besar bagi sang anak untuk menjadi penakluk dunia.

Kiranya, harapan ke dua orang tua Gus Dur telah terwujud. Gus Dur mampu menaklukkan segala keegoisan dan kecongkakan masyarakat Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya untuk bersatu dan mengenang segala kebijakan dan kearifan yang telah diajarkan.

Tidak hanya para ulama, petinggi negara, pemimpin politik dan masyarakat umum tampak tumpah berjubel di sekitar pondok pesantren Tebu Ireng Jombang Jatim untuk mengantarkan ke pesemayamannya untuk terakhir kali. Di makam keluarga pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, dekat makam kakeknya KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan makam ayahnya KH Wahid Hasyim.

(more…)

Read Full Post »

Gus Dur

January – 1 – 2010

/1./
Suatu hari di Oktober 1990. Mungkin tanggal 21 atau 22. Siang itu, panas membakar Bandung. Ribuan anak muda Muslim berhimpun di lapangan parkir Universitas Padjadjaran. Salawat Badar berkumandang. Saya hadir di sana tapi dengan bloon–maklum, belum dua bulan berstatus mahasiswa. Tapi, saya tahu, salah satu sosok yang berbicara di depan mikrofon itu adalah Jalaluddin Rakhmat, intelektual muslim yang banyak dikagumi kaum muda.

Juga, saya tahu: ini demonstrasi mengutuk Monitor. Tabloid itu dianggap menghina Nabi Muhammad. Aroma kemarahan tercium kuat saat itu. Saya, bahkan, melihat beberapa orang mencucurkan air mata saat salawat, puji-pujian untuk Rasulullah itu, dilantunkan.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: