Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2010

Tulisan ringan, panjang dan bisa membosankan ini ditulis pada 2007 untuk seseorang dan saat ini publikasikan untuk memotivasi diri dan semua orang yang sempat membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat.

Judul diatas sangat pantas mewakili tulisan ini. Dengan tanpa maksud sok tahu, akan tetapi hanya keinginan bertukar cerita, pandangan dan pengalaman sebagai orang yang sama-sama belajar mencoba hidup lebih bermakna dan berarti.

Pasti kita bertanya kenapa hidup harus bermakna dan berarti? Atau bahkan, untuk apa hidup? Jawabannya tentu dikembalikan kepada Iman kita, karena kita sudah dilahirkan, maka kita harus hidup. Apakah hanya sekedar hidup?
(more…)

Read Full Post »

Mengapa bermenung mengapa bermurung?
Mengapa sangsi mengapa menanti?
Hidup di dunia hanya sekali
Jangkaukan tangan sampai ke langit
Masuk menyelam ke lubuk samudra
Oyak gunung sampai bergerak
Bunyikan tagar berpancar sinar
Empang sungai membanjiri bumi
Aduk laut bergelombang gunung
Gegarkan jagat sampai berguncang
Jangan tanggung jangan kepalang

(Diambil sekenanya dari Sajak “Hidup Di Dunia Hanya Sekali” karya S. Takdir Alisjahbana)

Read Full Post »


Miftakhul Huda*

Buku “Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Republik Indonesia” (1955) ini terbagi dalam sepuluh bab. Bab pertama berisi pokok penyelidikan buku ini, yakni hukum tata negara positif berdasarkan UUD Sementara 1950, definisi norma hukum dan pembagiannya, sumber hukum negara, dan tentang interpretasi. Norma-norma hukum yang mengatur bentuk negara, organisasi pemerintahannya, susunan dan hak kewajiban organ-organ pemerintahan diuraikan disini. Selain hukum nasional, berlaku juga sumber hukum Internasional. UUD atau konstitusi sebagai: “Undang2 jang Tertinggi dalam Negara, jang memuat dasar2 seluruh sistem Hukum dalam Negara itu.” mendapatkan tempat khusus dan dibedakan dengan UU dan traktat.

Menyangkut hak uji UU oleh hakim, menurut Wolhoff kekuasaan per-UU-an biasa tidak berhak merubah UUD, dan ketentuan “UU tak dapat diganggu gugat” tidak dimaksudkan melepaskan diri dari penyesuaian UU biasa dengan UUD, baik materiil maupun formil. Terkait kedudukan traktat terhadap UU dan UUD, pertanyataan dia yang menggelitik yaitu jika traktat disamakan UU, maka traktat dapat merubah UU yang berlaku sebelumya, tetapi sebuah UU tidak dapat merubah traktat, karena traktat dapat dirubah hanya oleh organ-organ nasional secara berfihak satu (eenzijdig) saja.(hlm. 19-20)
(more…)

Read Full Post »

%d bloggers like this: