Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

Prof Dr Satjipto Rahardjo SH (78), guru besar emeritus sosiologi hukum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang itu, salah satu akademisi yang percaya bahwa menulis karya ilmiah populer di suratkabar tidak kalah pentingnya dengan menulis di jurnal ilmiah atau buku. Ia pun membuktikannya dengan kesetiaan mendalam selama 33 tahun menulis artikel di berbagai suratkabar, termasuk Harian Kompas.

Pak Tjip, sapaan akrab Prof Dr Satjipto Rahardjo, mengenang ketika koleganya dari Amerika Serikat yaitu ahli hukum Indonesia almarhum Prof Dr Daniel S Lev dilarang masuk Indonesia pada masa kekuasaan Presiden Soeharto tahun 1980-an. Selaku ahli Indonesia, Prof Lev membutuhkan bahan-bahan dari Indonesia untuk kajiannya. Salah satunya adalah artikel-artikel Pak Tjip di suratkabar.

“Saya tidak bisa menulis lagi soal hukum Indonesia, karena tidak bisa mencium aromanya. Aroma itu saya baca dari tulisan-tulisan Anda,” tutur Pak Tjip, mengutip Prof Lev, saat ditemui di rumahnya di Pleburan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (24/6). “Aroma” itulah, kata Pak Tjip, yang membedakan tulisan ilmiah populer dengan tulisan ilmiah murni di jurnal atau buku.
(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Gurita Polri


“Kalau mau jadi polisi, jadilah polisi yang baik, Nak, dengan segala risiko yang akan kau hadapi, termasuk dipecat. Bapak tidak mau kau jadi polisi yang kelak mencemarkan nama institusi dan nama keluarga kita!” Demikian nasihat seorang pensiunan polisi berpangkat inspektur kepada putranya di awal 1970-an.

Ketika itu, sang anak meminta restu bapaknya untuk mendaftarkan diri ke Akabri Bagian Kepolisian. Cita-citanya itu semula ditentang karena ayahnya melihat betapa susahnya menjadi polisi yang baik di Indonesia. Hanya setelah berjanji di depan orangtuanya bahwa ia tidak akan mencemarkan nama korps dan keluarga, sang anak baru direstui orangtuanya untuk mengikuti pendidikan kepolisian.

Anak yang bercerita itu selama 30 tahun lebih berkarier di Polri. Ia mengaku tidak pernah menyuap atasan dan tidak pernah pula memeras rakyat. Ia bahkan sering melawan perintah atasan jika perintah itu dinilai tidak sejalan dengan tugas polisi. Akibatnya, ia sering dilempar ke tempat tugas yang “kering”. Ia tidak peduli. Ia terus menghayati pesan bapaknya yang sudah almarhum.

Singkat cerita, dalam kariernya di Polri, ia berhasil meraih dua bintang emas dan sempat menduduki jabatan kapolda. Namun kariernya berakhir mengenaskan. Ia dipecat di tengah jalan tanpa alasan kuat. Ketika pemecatan ini ditanyakan langsung kepada Kapolri, Kapolri tidak mampu memberikan penjelasan yang masuk akal.
(more…)

Read Full Post »

%d bloggers like this: