Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘TOKOH BESAR’ Category

Tan Malaka dalam Cover Buku

Pelanduk ini memang berumah tak jauh dari patungnya Lenin. Matanya hewan ini cemerlang menandakan kecerdasan yang maha tangkas. Sikapnya seolah-olah mengukur kekuatan lawannya dan dengan sabar menanti tempo, bilamana dia bisa menghancur-luluhkan musuhnya dengan memakai segala kelemahan musuh itu, walaupun musuhnya itu seekor raja hutan… (Tan Malaka, Madilog, 1942)

Cerdik, taktis, dan komprehensif. Itulah sebuah gambaran perjuangan Tan Malaka semasa hidup. Perjuangan Tan Malaka meraih kemerdekaan, mimpi atas sebuah republik, dan penegakan kedaulatan rakyat, mempunyai nafas yang panjang. Dia tidak mudah goyah, pun tidak memberikan celah untuk kompromi dengan bangsa asing yang disebutnya penjajah.
(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Mr. M. Yamin

POPULARITAS sosok Mr Mohammad Yamin sering tenggelam dibanding Bung Karno, Bung Hatta, dan bapak-bapak bangsa Indonesia lainnya. Catatan-catatan tentangnya hanya terselip di lipatan tebal buku sejarah yang jarang dibuka. Agaknya, hal ini menggambarkan sifat Yamin yang tak suka menonjolkan diri dan lebih suka berkiprah di balik layar pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Dilahirkan di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat, tepat seratus tahun lalu, 23 Agustus 1903. Yamin melewati pendidikan di tempat yang berbeda-beda dan juga disiplin ilmu yang berlainan satu sama lainnya. Setelah menamatkan HIS di Padangpanjang, Yamin masuk sekolah dokter hewan di Bogor, menyeberang ke AMS di Yogyakarta sampai akhirnya mendapat gelar meester in de rechten atau sarjana hukum di Recht Hogeschool, Jakarta.
(more…)

Read Full Post »

Yamin, Si ‘Penyulap’?

TOKOH macam apa sebenarnya Muhammad Yamin itu?
Di tengah ramainya polemik mengenai siapa penggali Pancasila, nama Yamin mendadak mengulang lagi. Bukunya, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 yang pertama kali terbit pada 1959, dijadikan sumber primer oleh Prof. Dr. Notosusanto untuk menyimpulkan: penggali Pancasila bukan hanya Bung Karno saja, tapi juga Soepomo dan Yamin. Dasar kesimpulan tersebut: pada 29 Mei dan 31 Mei 1945, Yamin dan Soepomo di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengemukakan gagasan mereka tentang dasarnegara Indonesia yang akan dibentuk.

Teks pidato kedua tokoh tadi termuat dalam buku Yamin itu. Banyak yang meragukan autentisitas pidato Yamin karena banyak “keanehannya”. Ada yang curiga, Yamin diduga tidak pernah mengucapkan pidato yang kemudian dimuatnya dalam bukunya tersebut. Dengan istilah lain Yamin dicurigai telah “menyulap sejarah”. Ada juga yang kurang setuju bila Soepomo dikatakan telah mengajukan juga gagasan hma dasar negara seperti disimpulkan Nugroho.
(more…)

Read Full Post »

SALAH satu daya tarik sekaligus kekuatan Presiden Soekarno terletak pada kemampuannya berpidato. Pada zamannya, orang rela berdesakan demi mendengarkan pidato sang Pemimpin Besar yang disiarkan radio. Ribuan rakyat selalu antusias menghadiri rapat raksasa yang menampilkan orasi Bung Karno. Ketika komunikasi lisan lebih populer, pidato Bapak Proklamator itu mendapat tempat untuk didengarkan, juga dipatuhi.

Namun, menjelang kejatuhannya, pidato Bung Karno bagai seruan di padang gurun. Suaranya tak lagi didengar. Perintahnya tak lagi dipatuhi. Arus balik itu bergulir sejak meletus Gerakan 30 September (G-30-S) 1965. Sisa-sisa koran yang masih diizinkan terbit waktu itu lebih sering memelintir pernyataannya atau membiarkan suaranya hilang bersama angin lalu. Penulisan sejarah nasional pun kemudian melupakan pidato Bung Karno sebagai salah satu sumber penting.
(more…)

Read Full Post »

Buku Gadjah Mada

Pemikiran Yamin sungguh telah mendahului zamannya karena kemudian hari kita ketahui bahwa sejarah yang diajarkan di sekolah tak ubahnya dari sejarah militer.

Dibandingkan dengan Robert Cribb, Historical Atlas of Indonesia (2000) yang dikerjakan secara lebih ilmiah, Atlas Sejarah yang dibuat Yamin memang masih elementer walaupun sudah dapat dianggap pionir pada zaman itu. Atlas Cribb hanya terfokus ke Indonesia, sedangkan Yamin juga mengenai Asia dan dunia.

Dalam pengantar buku Lukisan Sejarah Yamin mengulang pernyataannya “Lukisan Sejarah dan Atlas Sejarah adalah dua saudara yang sama waktu lahirnya. Kedua-duanya menitikberatkan isinya kepada Indonesia dan Asia dengan menghindarkan pendirian seolah-olah sejarah itu hanya meliputi cerita perang dan pertempuran saja, padahal acap kali, dan biasanya, bersifat sejarah kebudayaan dan peradaban; seni, agama dan adat lembaga tak kurang memberi gambaran-gambaran yang tepat tentang masyarakat pada masa yang telah lampau.”
(more…)

Read Full Post »

Mr. M. Yamin

Mohammad Yamin adalah tokoh terpenting dalam perumusan Sumpah Pemuda. Ikrar yang disusunnya telah mengilhami perjuangan bangsa selanjutnya, bahkan tetap menjadi perekat persatuan sampai saat ini.

Sebetulnya bagaimana posisi Yamin dalam sejarah Indonesia? Pada majalah Tempo edisi khusus 16 Januari 2000 tertulis secara eksplisit, “Pakar sejarah Taufik Abdullah menempatkan Yamin sebagai sejarawan terbesar abad ini.” Mungkin Prof Dr Taufik Abdullah hanya berbasa-basi tentang kehebatan Muhammad Yamin, tetapi barangkali pernyataan itu ada benarnya juga.Timbul pertanyaan, besar dalam hal apa?

Kalau dari segi perawakan tubuh, memang Yamin lebih besar dari Taufik Abdullah, juga dari Mestika Zed. Anhar Gonggong mungkin lebih kurus, tetapi lebih tinggi atau sama tinggi dengan Yamin.Namun kalau dari segi kualitas karya,bagaimana mengukurnya?
(more…)

Read Full Post »

Kontroversi Buku Yamin

SEBUAH pertemuan kecil digelar di Istana Negara. Hari itu, 29 Mei 1995, Menteri-Sekretaris Negara Moerdiono bersama satu tim kecil penyusun buku datang menghadap Presiden Soeharto. Di antara rombongan ada sejarawan Taufik Abdullah, A.B. Kusuma, dan Nannie Hudawati. “Tim buku” itu dipimpin Syafroedin Bahar, pejabat Sekretariat Negara yang belakangan pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Mereka datang untuk menyerahkan sebuah buku yang selama 50 tahun-bahkan hingga kini-belum lengkap, yakni Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan terbitan Sekretariat Negara, edisi ketiga. Buku tersebut merevisi buku karya Mohammad Yamin yang terbit pada 1959, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, jilid I. “Buku itu edisi terakhir yang paling lengkap, meski belum sempurna,” kata Taufik Abdullah.
(more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: